Latest Post


    Terimakasih Telah Berkunjung

    SAYA ATHEIS


    Banyak yang bertanya mengapa saya menganggap diri saya Atheis dan bagaimana prosesnya. Baiklah, saya jawab di sini saja secara terbuka.

    Waktu baru lahir saya tidak beragama. Setelah masa kanak-kanak saya mulai diperkenalkan agama oleh orangtua, lalu saya secara fanatik menjalankan agama tersebut dan yakin kalau agama saya itu yang paling benar. Menginjak remaja saya tertarik mempelajari agama-agama lain dan berkesimpulan bahwa inti dari semua agama itu sama saja. Lalu kemudian setelah dewasa saya melepaskan semua bentuk lembaga agama dengan mengambil intisari ajarannya saja.

    Lalu seorang teman bertanya, apa yang akan saya lakukan tanpa agama? Apa tujuan hidup saya? Jawaban saya: memaknai hidup, membuat hidup lebih bermakna.

    Setiap orang punya caranya masing-masing dalam rangka memaknai hidup. Bagi seorang Hitler, makna hidup dapat dicapai melalui cara-cara fasis dengan cara membasmi orang-orang Yahudi, melalui kinerja orang-orang kepercayaannya semacam Hermann Goering, Yosef Goebbel, Heinrich Himmler, Erwin Rommel, dll, sehingga muncul tragedi Auschwitz, Kamp Konsentrasi, Holocaust, dll untuk tujuan pemurnian ras Arya dan pembasmian Yahudi. Bagi Gus Dur, makna hidup dapat dicapai dalam bentuk romantisme pluralitas bangsa Indonesia. Bagi saya, hanya cukup berbuat baik saja di dunia ini dan memberi manfaat untuk sekitar semampu saya.

    Nabi Muhammad bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lainnya, Sang Buddha mengajarkan kesabaran tanpa batas, Yesus mengajarkan cinta kasih, Confusius mengajarkan cara hubungan bermasyarakat, para Resi Rig Weda dan Upanishad mengajarkan keseimbangan dan kemenyatuan alam. Itulah inti dari semua ajaran para Guru Bijak itu. Oleh para agamawan yang mapan pada masanya, Guru-guru Bijak itu dituduh atheis, padahal beliau-beliaulah para peretas jalan menuju kebenaran dari berbagai penjuru.

    Mereka mulanya tidak berkeinginan membentuk suatu lembaga agama sebagaimana agama yg kita kenal sekarang, tapi orang-orang setelah merekalah yang membentuk yang membentuk serangkaian ajaran karena keterbatasan mereka yang sering memaknai kitab suci secara harfiah sehingga tercipta dogma-dogma yang tak masuk akal.

    Pengertian Atheis senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Dulu para nabi disebut Atheis oleh para kaum pagan (penyembah berhala), karena para nabi itu menyembah Tuhan yang tidak kelihatan. Kemudian makna Atheis bergeser menjadi orang yang tidak beragama. Lalu maknanya bergeser lagi menjadi orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Belakangan ini seseorang akan tetap dituduh Atheis walaupun ia beragama tapi kelakuannya seperti orang yang tidak mengenal agama, contohnya koruptor.

    Lalu di mana tepatnya posisi titik koordinat ke-Atheis-an saya?
    Jadi, Atheis-nya saya adalah sebatas menyangkal keyakinan adanya Tuhan yang berpribadi, Tuhan personal, Tuhan yang antropomorfik, Tuhan yang penggambarannya menyerupai manusia. Karena keyakinan terhadap Tuhan yang demikian seringkali membuat manusia kembali terjerembab ke dalam paganisme atau pemberhalaan baru.

    Sekian.

    "9"


    1 comment:

    1. susah... tapi kalau susah apa terus ndak usah... susah dikatakan... nggak usah dikatakan, cukup dijalani. gimana menjalani, tergantung kepribadian dan suasana hati masing-masing. Mungkin, ada yang dengan rutinitas ritual.... mungkin dengan menyepi.... dll dll, terserah masing-masing. tidak dipaksakan harus sama. Mungkin perlu rambu-rambu dari yang sudah berpengalaman...

      ReplyDelete

    Post a Comment