Latest Post


    Terimakasih Telah Berkunjung

    NAIK KELAS


    Dalam benak, seringkali berkecamuk pemikiran tentang "perkelahian" antara agama dan ilmu pengetahuan. Keduanya sulit akur dalam berbagai hal. Seolah-olah agama berkata kepada ilmu pengetahuan: "hey, kamu terlalu cepat melangkah!". Lalu ilmu pengetahuan menjawab: "bukan aku yang terlalu cepat, tapi kamu yang terlalu lambat!". Oh, memanglah benar, agama seperti tak beranjak dari zaman abad pertengahan. Sementara roda waktu terus berputar dengan cepatnya.

    Dalam perkembangannya, sains seringkali menemukan terobosan pemahaman yang sebelumnya tak pernah tercetus dalam dogma-dogma agama. Kisah penciptaan, kehidupan dan kejatuhan Adam, serta kisah-kisah para nabi kekasih Tuhan, semuanya serta-merta dianggap sebagai fakta kebenaran sejarah daripada menganggapnya sebagai kata-kata kiasan yang penuh pembelajaran. Tragisnya, manusia berebut klaim sebagai pemilik kebenaran tunggal sebagaimana agama yang dianutnya.

    Perjalanan spiritual umat manusia senantiasa berbeda pada tiap-tiap individunya, namun salah satu ciri utama kematangan spiritual seseorang adalah terletak pada kemampuan untuk memaklumi segala perbedaan. Coba tanyalah kepada anak siswa kelas satu SD, "lima dikurangi lima sama dengan berapa?", niscaya dia akan menjawab: "habis". Salahkan jawaban anak tersebut? Tentu tidak salah, sebab anak kelas satu SD belum mengenal angka Nol. Tanyakanlah lagi, "dua dikurangi lima sama dengan berapa?", maka dia akan menjawab: "nggak bisa Om/Tante". Dia menjawab demikian karena dia belum mengenal bilangan negatif/minus, bagi dia sebuah angka hanya bisa dikurangi oleh angkan yang lebih kecil. Jika kita menyalahkan jawaban yang demikian polos itu, maka kitalah sebenarnya yang tidak tahu diri. Sikap yang sebaiknya kita tunjukkan adalah memaklumi batas kemampuan anak tersebut.

    Ya. Banyak ahli berpendapat bahwa orang yang masih berpegang pada agama secara membuta tak ubahnya seperti anak kecil yang masih harus dituntun untuk menjadi dewasa. Maka salah satu jalan untuk semakin matang adalah harus "naik kelas", melalui perjalanan jatuh-bangun proses pemikiran yang lebih rasional. Bukankah salah satu kitab suci menyebutkan bahwa Tuhan akan mengangkat derajad manusia yang berilmu, sebab lewat ilmu nantinya akan membuka lebih banyak lagi tabir-tabir rahasia kehidupan yang selama ini tersembunyi.

    Kita tak akan pernah tau ada apa di balik gunung tanpa kita berusaha mendakinya hingga ke puncaknya. Ketika kita sudah tau, maka pemaklumanlah yang berbicara.

    Wassalam,
    Om santi santi santi Om..

    "9"


    0 komentar:

    Post a Comment