Latest Post


    Terimakasih Telah Berkunjung

    Ibrahim dan Iblis (Romantika Perjuangan Mencintai Tuhan)


    Memperjuangkan cinta memang tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi cinta kepada Tuhan. Ada harga yang harus dibayar, jiwa yang harus digadaikan hingga nyawa yang harus dikorbankan. Cinta memang buta. Namun dari kebutaan itulah cinta justru tumbuh, mekar dan berbunga di puncak harum lan wangi surga. Kisah perjuangan manusia-manusia yang mencintai Tuhan namun dengan cara yang berbeda, merupakan kisah yang menarik untuk diceritakan.

    Allah sendiri menegaskan dalam al-Qur’an, “Wa laqad ittakhadza Allahu Ibrahima khalila” (an-Nisa’: 125), bahwa Nabi Ibrahim benar-benar kekasih-Nya. Penerimaan cinta Ibrahim terhadap Tuhan melewati beberapa tahap yang sulit. Oleh karena itu Allah menyanjungnya dan menghargai cinta Ibrahim dengan menunjuknya sebagai al-khalil.

    Dalam al-Qur’an Allah memakai beberapa bentuk istilah untuk mengungkapkan kata cinta. Selain istilah al-khalil  yang berasal dari kata al-khullah, Allah juga memakai kata al-hubb serta istilah-istilah esoteris lainnya yang berkonotasi pada makna suka dan cinta.
    FOLLOW untuk mengikuti artikel-artikel mencerahkan

    Namun dari sekian istilah yang ada, menurut Syeikh Abi al-‘Iz al-Hanafi (w. 792 H), al-khalil; al-khullah merupakan puncak pengungkapan cinta yang Allah gunakan dalam al-Qur’an. Karena al-khullah –yang merupakan derivasi dari kata khala-yakhlu(menyendiri)- merupakan cinta yang menafikan wujud lain selain wujud dzat yang dicintai. Dalam artian, hanya ada satu dan tak tergantikan di hati Ibrahim; cintanya murni dan khusus teruntuk Allah.

    Ibrahim suatu kali pernah berdoa dan meminta kepada Allah agar diberi anak keturunan. Allah mengabulkan permintaan tersebut dan mengirimkan Ismail. Namun setelah memiliki keturunan Ibrahim nampaknya memiliki kecenderungan untuk mencintai Ismail lebih. Allah cemburu dan ingin menguji apakah kemunculan Ismail itu lalu mengikis cinta Ibrahim pada-Nya? Penyembelihan pun diperintahkan. Batu ujian yang sangat sulit karena pada kenyataannya Ibrahim memang mencintai Ismail sebagai anak satu-satunya.

    Namun Ibrahim menyakinkan bahwa cintanya pada Allah memang tak tergantikan. Meskipun ia mencintai Ismail, kedudukan cinta tersebut tidak sama sekali merepresentasikan apalagi melebihi cintanya pada Allah. Ujian cinta semacam ini tidak akan pernah kita temukan dalam kisah-kisah percintaan yang kita kenal dalam sejarah percintaan antar manusia. Berbeda dengan cinta Ibrahim pada Allah, cinta manusia selamanya semu, yang hampir dipastikan gagal ketika diuji sebagaimana ujian cinta Ibrahim kepada Allah.

    Jauh sebelum Ibrahim lahir, Iblis sudah terlebih dahulu menunjukkan cintanya yang begitu ikhlas kepada Allah. Dalam al-Qur’an kisah cinta Iblis terekam pada banyak ayat, salah satunya dalam surat al-Baqarah: 30-37. Meskipun ayat-ayat tersebut selama ini banyak atau selalu dibawa kepada makna negatifnya: bahwa Iblis sombong, enggan bersujud kepada Adam lalu dicap sebagai pendurhaka, namun pada tulisan kali ini ayat tersebut akan dilihat dari sudut yang lebih positif, yang memperlihatkan sebegitu besar cinta yang Iblis miliki.

    Sebelum Adam diciptakan, Iblis sudah mengabdi dan membuktikan kecintaannya pada Allah dengan merawat ketaatan  yang bahkan tidak mampu disamai oleh malaikat. Tanpa berhenti Iblis melakukan ibadah kepada Allah. Dia buktikan bahwa cinta yang ia miliki benar-benar satu dan tiada lain hanya untuk Allah.

    Setelah Adam diciptakan, Allah lalu memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam. Meski hanya bermakna penghormatan, Iblis tidak rela. Iblis menolak bersujud karena ketetapan hati yang sudah lama dia pegang; hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang pantas ia sembah. Satu-satunya Dzat yang pantas menerima serta melihat kerekatan dahinya pada tanah.

    Keteguhan prinsip ini yang mendorong Iblis dengan terang-terangan menolak perintah Allah. Perintah yang seharusnya tak ditolaknya sekaligus perintah tak pernah diterima batinnya. Perintah yang sama sekali tidak terbayangkan beratnya; perintah sang kekasih untuk bersujud kepada mahluk, dzat selain Dia. Kasus ini sama dengan seorang suami yang memerintahkan istrinya untuk mencintai laki-laki lain. Bagi Iblis, meskipun perintah tersebut datang dari Allah, ya harus ditolak.

    Dalam Thawasin Al-Hallaj (w. 301 H) mengapresiasi dan bertepuk tangan terharu atas sikap Iblis dengan berkata, “ma kana lillahi muwahhidun illa Iblis!” (tidak ada yang memiliki tauhid murni kepada Allah kecuali Iblis). Tauhid murni yang dimiliki Iblis tak lain adalah representasi kecintaannya yang begitu dalam kepada Allah.

    Dengan mengajukan alasan ana khairun minhu, khalaqtani min nar wa khalaqtahu min thin, Iblis sebenarnya sedang melakukan usaha agar penolakannya dapat dimaklumi oleh Allah, sang kekasih. Meskipun pada akhirnya dicap durhaka dan diusir dari surga,  Allah masih mengabulkan permintaan Iblis untuk hidup hingga hari kiamat. Seakan-akan ada tanda tersirat bahwa kecintaan yang murni mesti abadi dan Iblis harus hidup hingga kiamat; pertama agar manusia belajar dari kisahnya untuk menjaga diri dari kesombongan dan kedurhakaan, yang kedua untuk mengabadikan lambang cinta abadi Iblis kepada Allah. Dan Allah pun tahu itu.

    Ada dua bentuk perasaan cinta seorang hamba kepada Tuhannya: Ibrahim mengabdikan diri, melaksanakan seluruh perintah-Nya tanpa bertanya. Mengangguk iya meskipun pada dasarnya ada pergolakan batin yang terjadi dalam hatinya. Sedangkan Iblis justru mengekspresikan cintanya dalam bentuk penolakan sujud kepada Adam. Berani mengambil resiko dan menerima seluruh konsekuensinya demi kemurnian serta kebeningan cinta yang dia miliki. Ibrahim dengan cinta afirmatifnya dan Iblis dengan cinta negatifnya.

    Kita pun harus belajar dan menetapi bahwa tauhid pada hakikatnya adalah modal untuk membangun perasaan cinta kita kepada Allah. Baik Ibrahim maupun Iblis merupakan contoh yang sama-sama baik dalam mengungkapkan cintanya pada Allah.

    Banyak cara mencintai Allah. Namun seluruh cara dan jalan yang ditempuh tersebut menghulu dari sekaligus menghilir pada tauhid serta mengesakan Allah, pada keyakinan tunggal akan Dzat Allah. Sebuah perjalanan penuh romantika dan lika-liku yang berujung indah pada peleburan antara Ibrahim-Iblis sebagai sosok yang mencintai, dan Allah Dzat yang dicintai.

    (Hilmy Firdausy)

    Mantan Muslim



    Aku sejak 1-2 tahun terakhir ini kok seperti berperan ibaratnya sebagai Romo di Gereja Tua saja, menerima banyak "pengakuan dosa" di bilik inbox Facebook-ku karena banyak di antara mereka telah memilih jalan menjadi "MANTAN MUSLIM" (bukan pindah agama, tetapi tidak beragama).

    Sesuatu yang nyaris hal ini tidak pernah ku dengar dulu. Sesuatu yang aku nyaris tidak pernah percaya kalau orang beragama Islam berani memutuskan meninggalkan Islam karena mereka menganggap Islam bukan agama yang pantas dipercaya. Luar biasa bukan keberanian mereka ambil keputusan tersebut dalam perspektif seorang Islam? Hebatnya mereka umumnya kalangan amat terdidik dan mereka kaya tradisi literasi (membaca).

    Mungkin anda akan mengancam mereka nanti saat matinya di akherat disiksa, lalu masuk neraka panas jahanam yang terkutuk, lalu bagi yang lelaki tidak akan dapat servis 72 bidadari yang selalu perawan suci (klo buat yang perempuan entah servis apa yang di dapat di sorga. Secara umum deskripsi detailnya lelaki lah yang akan banyak keuntungan klo masuk sorga).

    Hanya bayangan anda keliru klo mereka takut ancaman itu. Mereka rileks aja. Kata mereka; sama2 ndak ada bukti mana yang benar. Tapi yang jelas mereka merasa lebih baik menjadi mantan Islam karena tidak perlu marah2 nuduh yang berbeda dengan mereka sebagai "Tafir", "Munakif", "Pasiq" dan tuduhan lainnya. Mereka nyaman hidup tanpa prasangka dan tanpa merasa sebagai orang yang paling suci.

    "Hmmm... cara pikir yang menarik juga dari mereka!", kataku dalam hati.

    Lalu ada 1 pertanyaan menarik dari mereka kepadaku: "kok kenapa sih umat Islam itu senang sekali membuat prasangka2 yang berlebihan pada orang lain hanya karena beda dalam urusan keyakinan ritual?"

    Jawabku: "Memang iya itu kebiasaan umat Islam selama berabad2 yang menjadikan Islam masuk masa kegelapan tanpa ujung. Itu sebabnya kita (muslim) ndak pernah maju. Kita (umat Islam) memang senang dengan prasangka kok merasa paling hebat jika sudah melakukan ibadah ritual tertentu. Merasa kontribusi buat dunia itu sudah terpenuhi sempurna jika sudah melakukan ibadah ritual. Ndak peduli setelah itu mereka korupsi, tipa-tipu, dll".

    "Tetapi aku pribadi yakin Islam yang kupeluk. Dikarenakan dengan Islam, spirit Tuhan itu ada dalam diriku. Islam itu menjadikan Akal Sehat dan Nuraniku seakan bisa bersatu dengan Allah SWT. Jadi, ini urusan intimasi pribadiku dengan Allah kok, dan itu kudapat dari Islam. Itu sebabnya aku Islam", itu jawabanku atas pertanyaan mereka saat bertanya padaku apa yang membuat aku ingin selalu menjadi muslim.

    "Hanya aku memang jeleh juga lihat orang Islam NGOTOT merasa paling benar sendiri dan merasa paling suci sendiri. Sibuk membuat aturan wajib jilbab, sibuk kemana2 bicara wanita pakai rok mini boleh diperkosa, sibuk buat aturan wajib sholat jamaah dan wajib baca Quran bersama di sekolah, sibuk buat aturan diskriminatif orang hapal Quran diterima PTN tanpa test, sibuk nyalah2kan miras saat ada kasus perkosaan (padahal perkosaan juga sering dilakukan ustadz di pengajian)".

    "Nah cara2 pandang simplistik dari umatnya yang seperti itu memang membuat Islam menjadi agama yang merana, terlihat memilukan! Jadi aku bisa paham kenapa kamu memutuskan menjadi mantan Islam karena kamu berefleksi pada kebodohan masyarakat Islam. Tapi klo boleh kusarankan, coba lah baca2 pemikir Islam seperti Ibn Rushd. Kamu akan tahu betapa indahnya menjadi muslim yang humanis dan berilmu. Setelah baca karya2 mereka kalau tertarik CLBK ke agama Islam maka inbox aku lagi yah", kataku menutup pembicaraan :)

    Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

    FR


    Robohnya Surau Kami (By AA. Navis)


    Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. 

    Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

    Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasihdan sedikit senyum.

    Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

    Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. 

    Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

    Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku,ka rena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"

    "Ajo Sidi."

    "Ajo Sidi?"

    Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yangdiceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

    Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"

    "Siapa?"

    "Ajo Sidi."

    "Kurang ajar dia," Kakek menjawab.

    "Kenapa?"

    "Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

    "Kakek marah?"

    "Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

    Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

    Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

    "Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-pujiDia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."

    Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"

    "Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."

    Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

    "Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemunanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

    Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

    ‘Engkau?’

    ‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

    ‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

    ‘Ya, Tuhanku.’

    ‘Apa kerjamu di dunia?’‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

    ‘Lain?’

    ‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

    ‘Lain.’

    ‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

    ‘Lain?’

    Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya.Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

    ‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

    ‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

    Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

    ‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

    ‘Lain?’

    ‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

    ‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

    ‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

    ‘Masuk kamu.’

    Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. 

    Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

    ‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

    ‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

    ‘Ini sungguh tidak adil.’

    ‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

    ‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

    ‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

    ‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

    ‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

    ‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

    ‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

    ‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

    ‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

    ‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

    Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

    Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

    Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

    ‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

    ‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

    ‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

    ‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

    ‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’

    ‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

    ‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

    ‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

    ‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

    ‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

    ‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

    ‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

    ‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

    ‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

    ‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

    ‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

    ‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

    ‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?’

    ‘Ada, Tuhanku.’

    ‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!'

    Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

    ‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

    ‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

    Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. 

    Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

    "Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.

    "Kakek."

    "Kakek?"

    "Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. 

    Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."

    "Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

    "Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

    "Tidak ia tahu Kakek meninggal?"

    "Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."

    "Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"

    "Kerja."

    "Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

    "Ya, dia pergi kerja."

    (END)




    Copyright by AA Navis/Gramedia Pustaka Utama


    MASIHKAH MENGANGGAP TUHAN TERPISAH DARI KITA?


    Pemahaman awam tentang Tuhan seringkali beranggapan bahwa Tuhan terpisah dari makhluk-Nya. Keyakinan semacam itu seringkali menjerumuskan kita ke dalam sistem pemberhalaan baru. Ujung-ujungnya keyakinan semacam itu cenderung menghasilkan Tuhan yang pilih kasih, karena menganggap Tuhan itu hanya berpihak pada kaum tertentu saja. Saya pikir Tuhan yang pilih kasih bukanlah Tuhan yang asli, tapi Tuhan yang dikonsepkan oleh manusia sesuai kepentingan duniawi belaka.

    Kembali ke pokok bahasan, berikut ini saya sajikan beberapa keterangan yang bersumber dari beberapa kitab suci yang menjelaskan bahwa Khalik dan makhluk adalah manunggal. Ayat-ayat berikut saya kutip dari Al-Qur'an:

    ”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap maka di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah [2] : 115)

    "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat" (QS. Al-Baqarah [2] : 186)

    "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (QS. Qaaf [50] : 16)

    "Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat" (QS. Al-Waqi’ah [56] : 85)

    "Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu" (QS. Fushshilat [41] : 54)

    “…Bersyukurlah kepada Allah, dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri…” (QS. Luqman [31] : 12)

    Dari sumber Alkitab, kita bisa temukan dalam Yohanes 14:10, Yesus berkata, "...Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku...". Dan di dalam Yohanes 10 : 30 Yesus mengatakan, "Aku dan Bapa adalah satu." Bapa yang dimaksud mengacu pada Tuhan Semesta Alam, bukan seperti hubungan orangtua dan anak dalam pengertian biologis sebagaimana yang sering dijadikan bahan pelecehan oleh orang-orang yang tidak memahami ajaran Kristen dengan benar.

    Berikutnya dari kitab suci umat Hindu saya kutip sebuah kisah. Seorang pemuda bernama Sretaketu telah mempelajari Weda selama dua belas tahun dan merasa telah cukup menguasainya. Ayahnya, Uddalaka, mengajukan sebuah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya.

    Kemudian ayahnya mengajarkan tentang kebenaran fundamental yang sama sekali belum diketahuinya. Dia memerintahkan anaknya untuk meletakkan sepotong garam di dalam air dan melaporkan hasilnya pada pagi hari berikutnya.

    Ketika sang ayah memintanya untuk mengambil garam itu, Sretaketu tidak dapat menemukannya karena garam itu telah larut semuanya.
    Uddalaka mulai bertanya:

    "Maukah engkau mencicipi bagian ini? Seperti apa rasanya?" katanya.

    "Garam."

    "Cicipilah bagian tengahnya. Seperti apa?"

    "Garam."

    "Cicipilah bagian ujungnya. Seperti apa?"

    "Garam."

    "Buanglah itu dan mendekatlah padaku."

    Sretaketu melakukan apa yang diperintahkan, namun itu tidak membuat garam menjadi berubah.
    Uddalaka berkata:

    "Anakku, memang benar bahwa engkau tidak bisa melihat wujud ada di sini. Esensi pertama ini dimiliki alam semesta sebagai Dirinya; Itulah yang Nyata; Itulah Diri; Itulah engkau, Sretaketu!"

    Jadi, meskipun kita tidak dapat melihatnya, Brahman melingkupi dunia dan, sebagaimana Atman, abadi dalam diri setiap kita.

    Nah, selanjutnya saya akan sajikan beberapa syair dari para sufi terkenal:

    "Barang siapa mengenal Tuhannya, maka ia akan melihat-Nya dalam setiap sesuatu. Karena semua sesuatu berasal dan kembali karena Nya dan milik-Nya. Dialah esensi dari semua itu" (Al-Ghazali)

    "Maha Suci Dzat yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah sesuatu itu" (Ibnu Arabi)

    "Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada wajah sahabatmu tercinta" (Jalaluddin Rumi)

    Alhasil, jika kita meyakini bahwa seluruh alam semesta ini merupakan perwujudan/manifestasi/tajalli Ilahi, maka rasa kasih sayang dan cinta akan bersemi di tiap-tiap hati kita semua tanpa sekat-sekat perbedaan yang selama ini menyempitkan pikiran, karena sejatinya kita adalah Satu. Ya, kita adalah alam semesta yang sedang mewujud sebagai manusia untuk rentang waktu tertentu saja. Sebab material alam semesta juga terkandung dalam tubuh kita.

    Semoga bermanfaat.

    Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuhu.
    Rahayu.
    Om santi santi santi Om.

    "9"


    NAIK KELAS


    Dalam benak, seringkali berkecamuk pemikiran tentang "perkelahian" antara agama dan ilmu pengetahuan. Keduanya sulit akur dalam berbagai hal. Seolah-olah agama berkata kepada ilmu pengetahuan: "hey, kamu terlalu cepat melangkah!". Lalu ilmu pengetahuan menjawab: "bukan aku yang terlalu cepat, tapi kamu yang terlalu lambat!". Oh, memanglah benar, agama seperti tak beranjak dari zaman abad pertengahan. Sementara roda waktu terus berputar dengan cepatnya.

    Dalam perkembangannya, sains seringkali menemukan terobosan pemahaman yang sebelumnya tak pernah tercetus dalam dogma-dogma agama. Kisah penciptaan, kehidupan dan kejatuhan Adam, serta kisah-kisah para nabi kekasih Tuhan, semuanya serta-merta dianggap sebagai fakta kebenaran sejarah daripada menganggapnya sebagai kata-kata kiasan yang penuh pembelajaran. Tragisnya, manusia berebut klaim sebagai pemilik kebenaran tunggal sebagaimana agama yang dianutnya.

    Perjalanan spiritual umat manusia senantiasa berbeda pada tiap-tiap individunya, namun salah satu ciri utama kematangan spiritual seseorang adalah terletak pada kemampuan untuk memaklumi segala perbedaan. Coba tanyalah kepada anak siswa kelas satu SD, "lima dikurangi lima sama dengan berapa?", niscaya dia akan menjawab: "habis". Salahkan jawaban anak tersebut? Tentu tidak salah, sebab anak kelas satu SD belum mengenal angka Nol. Tanyakanlah lagi, "dua dikurangi lima sama dengan berapa?", maka dia akan menjawab: "nggak bisa Om/Tante". Dia menjawab demikian karena dia belum mengenal bilangan negatif/minus, bagi dia sebuah angka hanya bisa dikurangi oleh angkan yang lebih kecil. Jika kita menyalahkan jawaban yang demikian polos itu, maka kitalah sebenarnya yang tidak tahu diri. Sikap yang sebaiknya kita tunjukkan adalah memaklumi batas kemampuan anak tersebut.

    Ya. Banyak ahli berpendapat bahwa orang yang masih berpegang pada agama secara membuta tak ubahnya seperti anak kecil yang masih harus dituntun untuk menjadi dewasa. Maka salah satu jalan untuk semakin matang adalah harus "naik kelas", melalui perjalanan jatuh-bangun proses pemikiran yang lebih rasional. Bukankah salah satu kitab suci menyebutkan bahwa Tuhan akan mengangkat derajad manusia yang berilmu, sebab lewat ilmu nantinya akan membuka lebih banyak lagi tabir-tabir rahasia kehidupan yang selama ini tersembunyi.

    Kita tak akan pernah tau ada apa di balik gunung tanpa kita berusaha mendakinya hingga ke puncaknya. Ketika kita sudah tau, maka pemaklumanlah yang berbicara.

    Wassalam,
    Om santi santi santi Om..

    "9"