Latest Post


    Terimakasih Telah Berkunjung

    AGAMA PANCASILA


    Saya tidak tahu persis sejak kapan nenek moyang kita mengenal agama. Sebagai awalan, tentu manusia Nusantara telah menemukan caranya sendiri-sendiri dalam membentuk sebuah lembaga bernama Agama. Kita sadari bersama bahwa Nusantara telah mempunyai peradaban sejak masa prasejarah, dan bukan tidak mungkin mereka telah menemukan Tuhan --atau konsep tentang Tuhan-- dengan cara mereka sendiri.

    Seiring waktu, nenek moyang kita mulai mengimpor agama, mulanya agama yang berasal dari Anak Benua atau India, hingga pada gilirannya datanglah pula agama yang berasal dari Timur Tengah. Lalu pertanyaannya, agama manakah yang paling cocok untuk kita yang hidup di Nusantara saat ini?

    Sebelum pertanyaan itu terjawab, saya akan memberikan definisi tentang Kebenaran. Dalam opini saya, Kebenaran adalah Kesepakatan, atau sesuatu yang telah disepakati bersama. Semua agama yang kita kenal saat ini telah disepakati sebagai kebenaran oleh orang-orang yang hidup di masa tertentu dan lokasi geografis tertentu. Dahulu kala, masyarakat India dan sekitarnya telah bersepakat bahwa ajaran para Resi Rig Weda adalah kebenaran, masyarakat di sekitar dataran Gangga bersepakat bahwa ajaran Sidharta Gautama merupakan sebuah kebenaran, masyarakat daratan Cina bersepakat bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Confusius maupun Lao Tze adalah kebenaran, masyarakat Yehuda dan Israel telah bersepakat bahwa ajaran Musa adalah kebenaran, masyarakat Nasrani perdana bersepakat bahwa ajaran Yesus adalah kebenaran, masyarakat Arab bersepakat bahwa ajaran Nabi Muhammad adalah kebenaran. Beliau-beliau semua adalah para Guru Bijak pada masanya, bahkan tetap berpengaruh hingga kini di seantero dunia.

    Meski membawa ajaran dengan tipe yang berbeda-beda, tak satu pun di antara mereka yang saling menyalahkan ajaran-ajaran yang telah diperkenalkan oleh para Guru Bijak lainnya. Meski tata cara ritual mereka berbeda-beda, ada satu persamaan di antara mereka, yaitu: beliau-beliau terkenal dengan sifat kesabaran dan ketabahan yang mereka miliki.

    Ajaran mereka terbukti ampuh diterapkan di wilayah asalnya, hingga seiring waktu, para pendakwah mulai membawa ajaran itu jauh ke luar tempat semula. Akhirnya, sampai pula di Nusantara. Namun sayang, pergeseran ajaran pun tak terelakkan, dan mungkin memang sudah menjadi keharusan bahwa semua yang datang harus melalui yang namanya penyesuaian. Jadi, jangan harap agama yang Anda anut saat ini merupakan ajaran asli dari para Guru Bijak terdahulu itu, sangat mungkin akumulasi intervensi kepentingan pribadi telah ikut meracuni.

    Lalu di manakah kebenaran? Kebenaran tetaplah ada dalam setiap ajaran sejauh masih ada kesepakatan yang bertitik berat pada kemanfaatan. Ya, kebenaran tetap ada, sekalipun kini telah muncul ribuan aliran dalam sebuah agama. Dalam kondisi seperti ini, klaim kebenaran hanya milik satu golongan sangat tidak dibenarkan.

    Lantas kehidupan post-modern memaksa para anak zaman untuk berpikir ulang membuat terobosan brilian dalam rangka kemaslahatan umat manusia, termasuk di dalamnya ideologi bangsa. Nama Soekarno muncul di Indonesia, bersamaan pula muncul tokoh-tokoh lainnya di seantero dunia.

    Lalu kita memperkenalkan Pancasila kepada dunia. Inilah sebuah kebenaran baru, milik kita, meski disinyalir beberapa poin penting dalam nilai-nilai Pancasila sebenarnya bukanlah asli milik bangsa kita, namun demikian rupa-rupanya tetap cocok diterapkan di Indonesia. Saya tak ragu-ragu menyebut Pancasila adalah sebuah agama, kitalah penganutnya. Ya, agama kita Agama Pancasila, tanpa perlu atribut aneh-aneh lainnya.

    Wassalam,
    Om santi santi santi Om..

    "9"


    0 komentar:

    Post a Comment